top navigation

AWAL YANG BAIK (Hai, Juli..)

  

  Suasana hati gadis yang akrab disapa Juli ini sepertinya sedang tidak baik. Raut mukanya tak tergambar senyum yang biasa ia pamerkan. Dan ini sudah terjadi beberapa hari terakhir. Ia hanya tersenyum saat ada pelanggan yang mampir ketoko roti tempatnya bekerja. Selepas itu
, ia hanya duduk diam sambil mengutak-atik handphone miliknya. Seperti menunggu sebuah kabar yang entah dari siapa, berani-beraninya membuat Juli yang selalu heboh dan asyik menjadi murung.
     Itsna, sahabat Juli yang sudah 1 tahun bekerja bersamanya bahkan sampai heran. Bagaimana mungkin Juli ternyata bisa bersikap seperti saat ini. Beberapa kali ia mencoba bicara pada Juli, dan jawaban sekedarnyalah yang keluar dari mulut Juli.
"Selamat siang kak, ada yang bisa dibantu?" Ujar Itsna kepada seorang pelanggan laki-laki yang datang. Pelanggan itu tersenyum pada Itsna. Matanya melihat tart-tart yang telah terhias cantik di etalase. Tanpa sengaja ia menemukan wajah Juli yang masih saja cemberut.
"Juli.. Kamu Juli kan?" Sapa lelaki itu. Juli yang disebut namanya menoleh kearah suara. Ia mulai tersenyum. Sepertinya mereka memang saling kenal.
"Iya, Ky. Aku Juli. Lama gak ketemu, ya.. Apa kabar?" Juli membalas sapaan dari lelaki itu. Lelaki yang bernama Kiky Ismail. Itsna yang awalnya disana langsung pergi kebelakang.
     Kalian harus tahu, siapa Kiky Ismail itu. Yang berhasil membuat Juli hari ini mulai tersenyum dan bertingkah ceria kembali. Ia adalah teman seangkatan Juli saat SMA. Mereka dipertemukan disebuah organisasi pramuka dan akhirnya membuat keduanya jadi akrab. Dan.. Juli sempat menaruh hati pada lelaki gagah itu. Dengan tanpa balasan dan jatuh cinta sendirian. Karena nyatanya, Kiky malah jadian dengan Felly, teman sekelas Juli. Namun untuk sekarang, bisa dipastikan Juli telah menghapus Kiky dari hatinya. Hanya saja ia senang dapat bertemu Kiky. Hari ini..
"Gimana sama Felly? Udah setahun kita gak ketemu. Kangen.." Ujar Juli yang tiba-tiba membahas Felly, pacarnya.
"Haha.. Udah putus Jul. Denger-denger mau nikah tuh. Sama Hendra. Tau Hendra, kan?" Jelas Kiky.
"Hendra anak OSIS? Kok bisa? Kamu ditikung? Hahaha.. Ya Allah, Jagain jodoh orang. Hendra harus berterimakasih sama kamu, Ky." Cerocos Juli sambil tertawa lebar. Kiky merengut sejenak melihat Juli yang bahagia menertawakan kisah hidupnya.
"Gak ketikung kok. Sehari setelah kita lulus, aku putus sama Felly. Dan berangkat deh, ke Jogja." Ujar Kiky dengan ekspresi tenang.
     30 menit mereka berbincang di meja kasir, membicarakan Felly, Kabar Juli, dan bagaimana kuliah Kiky di Jogja. Lalu selang beberapa menit, Kiky meminta ijin untuk kembali melihat tart yang ia cari dan pamit pulang.
"Juli, seneng hari ini bisa ketemu kamu. Aku juga kangen masa kita yang dulu." Bisik Kiky membuat bibir Juli menyungging senyum manis.
"Hehe.. Aku juga Ky. Sampai ketemu lain waktu ya.." Ujar Juli.
"Oh ya, aku hari ini mau balik ke Jogja. Bisa tulis nomor whatsapp-mu?" Kiky mengulurkan Iphone-nya pada Juli.
"Nah.." Juli mengembalikan Iphone milik Kiky setelah mengetikkan nomor whatsapp-nya. Saved.
-Juli Cantique- (086654297)
"Please jangan alay. Iphone-ku gak berfungsi nanti.." Juli yang mendengar ucapan Kiky hanya merengut sebal. Kiky tertawa melihat ekspresi itu.
    Langkah kaki Kiky keluar dari toko itu dan bergegas menuju taxi online yang telah ia pesan. Sesekali, pandangannya masih mengarah kepada Juli seakan tak ingin berakhir pertemuan hari ini. Ia mulai hilang dibawa mobil itu.
----
    Dua hari setelah pertemuan mereka, Kiky selalu aktif chat Juli. Dan semenjak itu, Juli mulai terlihat sumringah meski sesekali murung. Sepertinya, Kiky sudahlah bukan bagian prioritasnya seperti dulu. Buktinya, ia masih belum kembali ceria sepenuhnya.
"Gimana sama mas Kiky yang kamu suka sejak gabung di ekstrakurikuler pramuka SMA-mu dulu?" Itsna mencoba menggoda sahabatnya itu.
"Gimana apanya?" Juli terlihat acuh tak acuh membahas Kiky. Memalingkan muka dengan malas.
     Itsna tanpa aba-aba memeluk Juli dari belakang. Pelukan seorang sahabat yang menenangkan. Lalu Itsna berkata,
"Kita kan sudah lama kenal, kamu ini kan sahabat yang sudah seperti adikku sendiri. Ada masalah apa sih, Juliku.. Tell me about your problem!"
     Pertahanan Juli mulai runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia berbalik badan memeluk erat Itsna.
"Aku ditinggal nikah." Kata Juli masih sesungukan. Itsna melepaskan pelukannya. Ia tertawa melihat wajah Juli yang tak karu-karuan saat ini.
"Serius, kamu masalahnya cuma ditinggal nikah? Siapa yang kamu maksud?" Tanya Itsna yang masih cekikikan karena ia tahu, Juli tak dekat dengan siapapun. Kecuali untuk hal satu ini Itsna memang tak tahu.
"Siapa?" Tanya Itsna lagi. "Keenan Pearch" Jawab Juli tanpa rasa malu.
"Kampret kamu ini. Aku serius tanya masalahmu, tahu!" Omel Itsna yang mulai kesal padanya. Juli sepertinya memang enggan menceritakan apa yang ia alami saat ini.
"Gak ada kok, Na. Am okay!" Ujar Juli sambil tersenyum.
     Kini waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sudah saatnya mereka pulang. Jarak kost Juli lumayan dekat. Hanya saja jalannya yang menanjak membuatnya sering berhenti di tengah jalan sejenak. Lelah.
    Suasana gang-nya memang terlihat sepi, namun cukup terang untuk membuatnya berani berjalan sendirian.
     Langkahnya melambat sambil memainkan handphone-nya. Membuka akun whatsapp, namun nihil. Tak satupun pesan ia peroleh dari seseorang yang membuatnya menjadi seperti ini.
'Oh shit!' Gumamnya dalam hati. Langkahnya mulai cepat. Ia ingin lekas sampai lalu mengistirahatkan badannya, sembari menunggu hari esok yang menurutnya sama saja. Sendirian, berkutat menunggu sebuah pesan istimewa itu.